Buat yang ngaku penggila bola—apalagi pengamat sepak bola Asia Tenggara—pertandingan ASEAN Championship U23 selalu punya tempat spesial di hati. Jangan dikira ini cuma ajang “pemanasan” sebelum Piala AFF senior! Di turnamen inilah, bibit-bibit pemain masa depan bersinar, duel gengsi tersaji, dan suasana rumah tiba-tiba berubah seperti tribun mini, terutama kalau kamu nonton lewat TV parabola.

Apa sih serunya menanti pertandingan U23 di level ASEAN? Pertama, intensitas permainannya sering jauh lebih liar dibanding senior. Lari kencang, duel tanpa ragu, blunder kocak sampai gol salto kadang terjadi spontan. Nama-nama yang baru tadi sore belum dikenal, tiba-tiba bisa trending besok pagi gara-gara satu gol khas pemuda penuh gairah. Perputaran emosi pun cepat: menang hari ini, bisa saja ngeri kehilangan kans lolos dua hari berikutnya.
Biasanya, pertandingan berlangsung padat. Dua babak penyisihan, lanjut semifinal, lalu puncaknya partai final yang sering bikin jantung copot di injury time. Jadwal main jarang jauh-jauh, bisa sehari dua kali—dan waktu menonton kadang pas di jam keluarga kumpul habis makan malam. Kalau Indonesia main, suara rumah pasti berubah. “Ayo gas, Garuda Muda!” atau “Jangan panik, bola dipegang dulu!” jadi soundtrack dadakan seisi rumah.
Siapa punya parabola di atap, dapat bonus ekstra! Channel andalan seperti iNews, SCTV, TVRI Sport, serta beberapa channel luar Asia Tenggara semacam PPTV Thailand atau VTV Vietnam, sering jadi penolong pas siaran utama lagi rewel. Tinggal scan aja, siapa tahu dapat komentar kocak gaya Thailand atau Vietnam. Kanan-kiri, ruang tamu pasti penuh: dari anak kecil yang penasaran sampai bapak-bapak yang suka sok jadi pelatih dadakan.
Uniknya, setiap rumah punya drama klasik: remote TV jadi benda paling rebutan. Ada yang ngambek kalau dicuri sebelum penalty shoot-out. Kalau sinyal parabola “hilang arah” pas adu penalti, suasana bisa seperti lagi pesta, tapi dengan wajah-wajah tegang setengah panik. Ritual ganti channel, update receiver, hingga goyang-goyang piringan atap juga jadi bagian cerita lucu sendiri.
Setelah peluit panjang, biasanya euforia masih lama padam. Sisa adrenalin muncul dalam bentuk analisa laga: “Tadi taktikal pelatih benar nggak sih?”. Kadang malah adik atau ibu ikut nimbrung, walau diskusinya bisa melebar ke soal jajan dan oleh-oleh khas negara lawan!
Intinya, nonton pertandingan sepakbola internasional ASEAN Championship U23 bukan sekadar hiburan atau tontonan. Ini pengalaman keluarga—dari teriakan spontan, “Gol!” yang mengejutkan tetangga, sampai drama cari channel baru pas siaran error. Buat generasi pencinta bola, inilah malam-malam penuh kenangan dan cerita, festival kecil di ruang tamu yang selalu bakal dirindukan saat turnamen berikutnya datang. Sudah siap duduk di depan parabola, kan? Jangan heran kalau satu gol malam ini, bisa jadi bahan cerita sampai tahun depan!